RELAWAN
DEMOKRASI : LANGKAH AWAL MENGABDI PADA NEGERI
Oleh : M.
Khakim Maulana
Ada beberapa
hal yang memotivasi saya mengikuti Relawan Demokrasi Pemilu 2019. Motivasi
tersebut merupakan panggilan jiwa bagi saya yang beranggapan bahwa “sudah
saatnya saya harus ikut berkontribusi untuk negeri”. Namun karena
keterbatasan pemikiran saya, sering kali kebingungan harus mulai dari mana agar
bisa berkontribusi untuk negeri. Hal pertama yang saya lakukan adalah
berpendidikan. Saya meyakini bahwa orang yang berpendidikan akan memiliki jalan
yang mudah dalam upaya mengabdi pada negeri. Langkah ini juga merupakan upaya
memajukan negara, karena suatu negara yang maju dipengaruhi oleh tingkat
pendidikan bangsa negara tersebut. Oleh karenanya, sejak usia menjelang jenjang
menengah pertama, saya bersikukuh agar bisa mengenyam hingga pendidikan tinggi
meskipun ekonomi tidak memadai.
Kedua, seiring proses
perkembangan waktu dan kedewasaan pola pikir, saya beranggapan bahwa
berpendidikan saja tidak cukup dalam membela negara. Ia membutuhkan kecakapan
sosial dalam membimbing dan memberi penjelasan kepada sesama bangsa Indonesia
yang membutuhkan pengetahuan. Oleh karenanya, sejak masa Sekolah Menengah
Pertama, saya bertekad mengikuti kegiatan organisasi sebagai bekal berbakti
kepada negeri. Nantinya pengetahuan akademik dan keterampilan sosial yang telah
saya dapat, akan saya implementasikan untuk bangsa dan negara dalam kehidupan
sehari-hari.
Sebagai bangsa
Indonesia yang menjadi generasi penerus, tentunya bela negara sudah menjadi hal
yang lazim bagi bangsa Indonesia yang patut diperjuangkan. Menjadi relawan
demokrasi pada penyelenggaraan pemilu 2019 menurut saya merupakan wujud bela
negara dalam hal perjuangan perwujudan negara demokrasi. Kita sebagai bangsa
yang diberi kesempatan mengenyam pendidikan, harus bertanggung jawab dalam
menjelaskan masyarakat luas tentang pendidikan politik demokrasi. Kita juga
harus memberikan bimbingan dan arahan tentang pendidikan politik demokrasi
tersebut menuju politik yang sehat. Jika pengetahuan masyarakat tentang
pendidikan politik demokrasi masih kurang, maka hal tersebut akan berdampak
pada kurang maksimalnya penerapan negara demokrasi di Indonesia, yakni hasil
pemilihan umum para calon pemimpin negara tidak didapatkan dari suara seluruh
bangsa Indonesia, melainkan hanya beberapa persen saja dari daftar pemilih
tetap.
Jika kita
melihat data, setiap kali penyelenggaraan pemilihan umum dari tahun ke tahun
mengalami grafik fluktuasi pada pemanfaatan hak pilih oleh masyarakat.
Berdasarkan data yang dicatat oleh KPU dalam harian kompas pada Jumat (29/06/18)
mengatakan bahwa partisipasi pemilih pilkada serentak 2018 mencapai 73,24%.
Dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) sebesar 152.079.997, sebanyak 73 persen
berpartisipasi menggunakan hak pilihnya dalam pilkada.
Hasil ini sudah
cukup baik, akan tetapi mengalami penurunan persentase jika dibandingkan dengan
tahun sebelumnya. Menurut komisioner KPU, Wahyu Setiawan dalam harian kompas
(29/06/18) mengatakan angka partisipasi pemilih masih lebih kecil dibandingkan
pilkada 2017 lalu. Saat itu, warga yang berpartisipasi menggunakan hak pilihnya
mencapai 74% dari jumlah DPT. Hal ini merupakan indikasi bahwa angka melek
pemilu masyarakat Indonesia masih belum maksimal. Oleh karena itu, motivasi
ketiga saya mengikuti relawan demokrasi pemilu 2019 adalah ingin meningkatkan
persentase partisipasi masyarakat pada pemilu 2019.
Upaya
peningkatan persentase partisipasi masyarakat sangat penting dilakukan karena
pada tahun 2019 KPU mengambil langkah pelaksanaan pemilihan umum secara
serentak yaitu memilih presiden-wakil presiden, DPRD tingkat nasional, DPRD
tingkat provinsi, DPRD tingkat kabupaten/kota dan DPD. Tentu langkah yang
diambil KPU ini harus dipersiapkan secara matang sehingga hal-hal yang tidak
diinginkan terkait pemilu serentak pada 2019 nanti bisa diantisipasi.
Langkah yang
akan saya lakukan ketika nanti menjadi relawan demokrasi pemilu 2019 adalah
memberikan pengetahuan, bimbingan serta penyuluhan kepada khayalak umum sesuai
dengan basis yang saya pilih yaitu basis komunitas pemilih pemula. Langkah
tersebut akan saya lakukan dalam bentuk sosialisasi kepada komunitas terkait
dengan urgensi pemilu, prosedur dalam memilih, pendidikan pemilu yang sehat dan
dampak yang akan ditimbulkan jika masyarakat Indonesia tidak berpartisipasi
atau golput di dalam pemilihan umum. Sehingga melalui rencana tersebut, semoga
masyarakat khususnya komunitas pemilih pemula bisa dengan bijak menggunakan hak
pilihnya untuk kemajuan negara Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar