Senin, 12 Agustus 2019

RELAWAN DEMOKRASI : LANGKAH AWAL MENGABDI PADA NEGERI


RELAWAN DEMOKRASI : LANGKAH AWAL MENGABDI PADA NEGERI
Oleh : M. Khakim Maulana

Ada beberapa hal yang memotivasi saya mengikuti Relawan Demokrasi Pemilu 2019. Motivasi tersebut merupakan panggilan jiwa bagi saya yang beranggapan bahwa “sudah saatnya saya harus ikut berkontribusi untuk negeri”. Namun karena keterbatasan pemikiran saya, sering kali kebingungan harus mulai dari mana agar bisa berkontribusi untuk negeri. Hal pertama yang saya lakukan adalah berpendidikan. Saya meyakini bahwa orang yang berpendidikan akan memiliki jalan yang mudah dalam upaya mengabdi pada negeri. Langkah ini juga merupakan upaya memajukan negara, karena suatu negara yang maju dipengaruhi oleh tingkat pendidikan bangsa negara tersebut. Oleh karenanya, sejak usia menjelang jenjang menengah pertama, saya bersikukuh agar bisa mengenyam hingga pendidikan tinggi meskipun ekonomi tidak memadai.
Kedua, seiring proses perkembangan waktu dan kedewasaan pola pikir, saya beranggapan bahwa berpendidikan saja tidak cukup dalam membela negara. Ia membutuhkan kecakapan sosial dalam membimbing dan memberi penjelasan kepada sesama bangsa Indonesia yang membutuhkan pengetahuan. Oleh karenanya, sejak masa Sekolah Menengah Pertama, saya bertekad mengikuti kegiatan organisasi sebagai bekal berbakti kepada negeri. Nantinya pengetahuan akademik dan keterampilan sosial yang telah saya dapat, akan saya implementasikan untuk bangsa dan negara dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai bangsa Indonesia yang menjadi generasi penerus, tentunya bela negara sudah menjadi hal yang lazim bagi bangsa Indonesia yang patut diperjuangkan. Menjadi relawan demokrasi pada penyelenggaraan pemilu 2019 menurut saya merupakan wujud bela negara dalam hal perjuangan perwujudan negara demokrasi. Kita sebagai bangsa yang diberi kesempatan mengenyam pendidikan, harus bertanggung jawab dalam menjelaskan masyarakat luas tentang pendidikan politik demokrasi. Kita juga harus memberikan bimbingan dan arahan tentang pendidikan politik demokrasi tersebut menuju politik yang sehat. Jika pengetahuan masyarakat tentang pendidikan politik demokrasi masih kurang, maka hal tersebut akan berdampak pada kurang maksimalnya penerapan negara demokrasi di Indonesia, yakni hasil pemilihan umum para calon pemimpin negara tidak didapatkan dari suara seluruh bangsa Indonesia, melainkan hanya beberapa persen saja dari daftar pemilih tetap.
Jika kita melihat data, setiap kali penyelenggaraan pemilihan umum dari tahun ke tahun mengalami grafik fluktuasi pada pemanfaatan hak pilih oleh masyarakat. Berdasarkan data yang dicatat oleh KPU dalam harian kompas pada Jumat (29/06/18) mengatakan bahwa partisipasi pemilih pilkada serentak 2018 mencapai 73,24%. Dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) sebesar 152.079.997, sebanyak 73 persen berpartisipasi menggunakan hak pilihnya dalam pilkada.
Hasil ini sudah cukup baik, akan tetapi mengalami penurunan persentase jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Menurut komisioner KPU, Wahyu Setiawan dalam harian kompas (29/06/18) mengatakan angka partisipasi pemilih masih lebih kecil dibandingkan pilkada 2017 lalu. Saat itu, warga yang berpartisipasi menggunakan hak pilihnya mencapai 74% dari jumlah DPT. Hal ini merupakan indikasi bahwa angka melek pemilu masyarakat Indonesia masih belum maksimal. Oleh karena itu, motivasi ketiga saya mengikuti relawan demokrasi pemilu 2019 adalah ingin meningkatkan persentase partisipasi masyarakat pada pemilu 2019.
Upaya peningkatan persentase partisipasi masyarakat sangat penting dilakukan karena pada tahun 2019 KPU mengambil langkah pelaksanaan pemilihan umum secara serentak yaitu memilih presiden-wakil presiden, DPRD tingkat nasional, DPRD tingkat provinsi, DPRD tingkat kabupaten/kota dan DPD. Tentu langkah yang diambil KPU ini harus dipersiapkan secara matang sehingga hal-hal yang tidak diinginkan terkait pemilu serentak pada 2019 nanti bisa diantisipasi.
Langkah yang akan saya lakukan ketika nanti menjadi relawan demokrasi pemilu 2019 adalah memberikan pengetahuan, bimbingan serta penyuluhan kepada khayalak umum sesuai dengan basis yang saya pilih yaitu basis komunitas pemilih pemula. Langkah tersebut akan saya lakukan dalam bentuk sosialisasi kepada komunitas terkait dengan urgensi pemilu, prosedur dalam memilih, pendidikan pemilu yang sehat dan dampak yang akan ditimbulkan jika masyarakat Indonesia tidak berpartisipasi atau golput di dalam pemilihan umum. Sehingga melalui rencana tersebut, semoga masyarakat khususnya komunitas pemilih pemula bisa dengan bijak menggunakan hak pilihnya untuk kemajuan negara Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DISKUSI MATERI 2

...