Senin, 12 Agustus 2019

Pemanfaatan Metode Suggestology Sebagai Sarana Revitalisasi Semangat Belajar Bahasa Arab dalam Maharah Al-Kalam di Era Milenial


M. Khakim Maulana
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan

Abstrak

Artikel ini mengkaji tentang bagaimana merevitalisasi semangat belajar bahasa arab dalam Maharah al-kalam di era milenial. Berbagai permasalahan terutama pada rendahnya semangat belajar bahasa arab yang harus dihadapi di lembaga pendidikan, tenaga pengajar memungkinkan melakukan pencarian metode baik inovasi maupun modifikasi guna menunjang aktivitas belajar mengajar. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan Metode Suggestology dalam merevitalisasi semangat belajar bahasa arab khususnya dalam maharah al-kalam. Pembahasan tentang metode Suggestology memuat unsur-unsur yang akan diterapkan dalam proses pembelajaran. Unsur-unsur tersebut meliputi Autority, Infantilisasi, Dual Komunikasi, Intonasi, Rhythm, dan keadaan Pseuda-Passive. Dengan memahami dan melaksanakan unsur-unsur dalam metode Suggestology, maka diharapkan bagi para pelajar khususnya mahasiswa dapat kembali bersemangat dalam belajar bahasa arab di era milenial. Harapan ini semoga bisa terus meningkat, sehingga akan memungkinkan pada keberhasilan belajar bahasa arab dalam keterampilan al-kalam.

Pendahuluan

Bahasa merupakan media untuk menuangkan isi hati, pikiran seseorang terhadap lingkungan maupun lawan bicaranya. Berkenaan dengan bahasa arab, banyak orang memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Sebagian ada yang mengungkapkan bahwa bahasa arab adalah bahasa religi. Konteks ini didasari dengan asumsi bahwa bahasa arab sebagai alat untuk mempelajari kitab-kitab suci yang berbahasa arab. Sebagian lagi ada yang beranggapan bahwa bahasa arab merupakan bahasa ilmu pengetahuan islam. Asumsi ini didasari dengan alasan bahwa ilmu pengetahuan islam bersumber dari referensi kitab-kitab berbahasa arab karya ilmuwan islam terdahulu. Sebagian yang lain juga beranggapan bahwa bahasa arab merupakan bahasa komunikasi, yakni lebih menekankan pada aktivitas sosial manusia sehari-hari.
Bahasa arab dalam konteks sebagai alat komunikasi, maka belajar bahasa arab menekankan pada bagaimana seseorang melaksanakan praktik dan terampil untuk berbicara menggunakan bahasa arab, baik di dalam maharah Istima’, al-qiro’ah, al-kitabah, maupun al-kalam. Di sini dapat dilihat empat aspek yang menjadi konsentrasi dalam pembelajaran bahasa. Banyak para ahli bahasa arab berpendapat tentang hakikat berbahasa arab yang akan berakibat pada pola pembelajaran bahasa arab. Salah satu pendapat dari Muhammad Ibn Mar’i al Hazimi mengatakan "اللغة في الأساس هي الكلام" (dasar sebuah bahasa adalah berbicara/al-kalam). Ada juga yang berpendapat bahwa “Jika seseorang menguasai suatu bahasa, secara intuitif ia mampu berbicara dalam bahasa tersebut”.[1] Pendapat ini menunjukkan bahwa maharah al-kalam mengisyaratkan keberhasilan seseorang dalam berbahasa dan mengetahui bahasa tersebut.
Maharah al-kalam erat kaitannya dengan pelafalan, tata bahasa, kosa kata, keterampilan mendengarkan, menirukan, dan lain-lain. Maka penggunaan metode dan stategi pembelajaran yang didasari dengan teknik yang tepat akan berpengaruh terhadap hasil dan tujuan pembelajaran bahasa. Jika penggunaan metode pembelajaran belum didasari dengan pendekatan yang tepat terhadap pelajar bahasa arab, tentu hal itu akan mengakibatkan pada kesulitan belajar bahasa arab khususnya dalam maharah al-kalam. Jika seorang pelajar—baik itu dari kalangan siswa maupun mahasiswa kesulitan dalam memahami dan mengikuti metode pembelajaran, maka akan timbul masalah baru yakni semangat belajar mulai turun dan hasil pembelajaran kurang maksimal.
Hemat penulis, berdasarkan pengamatan selama dua semester belajar di jurusan bahasa arab, pembelajaran maharah al-kalam di IAIN Pekalongan masih menggunakan metode sederhana, yakni dalam kompetensi dasar hiwar (percakapan) mahasiswa hanya sebatas menyimak materi, membaca bersama kemudian menghafal percakapan dan mempraktikkannya di depan kelas. Dengan metode pembelajaran yang demikian, tentu hal ini terkesan bertentangan dengan era milenial yang serba modern. Mahasiswa akan cenderung lebih cepat bosan dengan aktivitas monoton—yang berdampak pada turunnya semangat belajar. Di samping itu, mahasiswa yang memiliki kemampuan terbatas—karena masih baru dengan bahasa arab—akan mudah menyerah. Mereka beranggapan bahwa belajar bahasa arab itu sulit dan seolah tidak ada jalan keluar. Oleh karena itu, pencarian metode yang tepat terus dilakukan oleh pegiat pendidikan sebagai upaya untuk merevitalisasi semangat belajar bahasa arab. Metode Suggestology merupakan salah satu upaya dalam merevitalisasi semangat belajar bahasa arab khususnya dalam maharah al-kalam.

Pemanfaatan Metode Suggestology
Metode Suggestology merupakan suatu penerapan dari sugesti ke dalam ilmu mendidik. Metode ini dicetuskan oleh Lozanov, sehingga metode ini biasa disebut “The Lozanov Method” yang mencerminkan nama pencetusnya yakni George Lozanov dari Bulgaria, Eropa Timur. Metode ini sering digunakan di sekolah-sekolah Eropa dan Amerika dengan maksud untuk membasmi sugesti dan pengaruh negatif yang tak disadari bersemai pada diri pelajar. Di samping itu, Metode Suggestology juga untuk membasmi perasaan takut—yang menurut para ahli sangat menghambat proses belajar; seperti perasaan tidak mampu, perasaan takut salah, dan keprihatinan serta ketakutan akan sesuatu yang baru dan belum familiar.[2] Jadi, konteks Metode Suggestology adalah membuat pelajar khususnya mahasiswa memiliki pola pikir positif dan mampu berjalan sesuai dengan target yang akan dicapai.
Tak bisa dipungkiri, hemat penulis berdasarkan survei yang penulis lakukan terhadap teman-teman mahasiswa PBA IAIN Pekalongan, sebagian besar yang mengakibatkan pada rendahnya semangat belajar bahasa arab adalah sugesti dan pengaruh negatif. Mereka berasumsi—terutama bagi mahasiswa yang berasal dari SMA atau SMK—bahwa belajar bahasa arab itu sulit. Mereka selalu merasa tidak mampu, perasaan takut salah dalam melangkah dan sugesti yang lain yang menghambat semangat belajar. Jika sugesti-sugesti tersebut terus terpelihara dalam benak pikiran, maka akan berdampak pada terhambatnya semangat belajar bahasa arab. Jika semangat belajar bahasa arab terhambat, maka tujuan pembelajaran akan sulit tercapai. Oleh karena itu, Metode Suggestology dipilih sebagai sarana revitalisasi semangat belajar bahasa arab mahasiswa di Era Milenial.
Metode Suggestology secara teori memiliki sinkronisasi terhadap metode pembelajaran bahasa arab. Metode Suggestology menurut Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A, merupakan salah satu metode inovatif dalam metode pembelajaran bahasa arab yang mampu menumbuhkan semangat mahasiswa dalam belajar bahasa arab.
Bancropt (1976) mencatat enam unsur dasar dari Metode Suggestology. Unsur yang pertama adalah Authority, yaitu adanya semacam tsiqah, untuk membuat mahasiswa yakin dan percaya pada dirinya sendiri (self confidence). Unsur ini yang harus pertama kali diterapkan kepada mahasiswa agar mulai menumbuhkan benih-benih semangat belajar bahasa arab.
Unsur yang kedua adalah Infantilisasi, yaitu mahasiswa seakan-akan seperti anak kecil yang menerima authority dari seorang guru. Unsur ini seolah bertentangan terhadap anjuran yang menuntut mahasiswa agar mandiri. Akan tetapi, dalam pembelajaran bahasa arab khususnya dalam maharah al-kalam metode ini efektif untuk digunakan. Unsur Infantilisasi menjelaskan bahwa belajar bahasa arab itu seperti anak-anak, melepaskan mahasiswa dari kungkungan belajar rasional ke arah belajar yang lebih intuitif. Sebagai contoh, adanya penggunaan “role play” dan nyanyian dalam metode ini sehingga akan mengurangi rasa tertekan, dan mahasiswa dapat semangat belajar secara ilmiah. Ilmu dapat masuk tanpa disadari seperti apa yang dialami oleh anak kecil. Hemat penulis, unsur ini sangat efektif terhadap pembelajaran maharah al-kalam karena keterampilan al-kalam memiliki substansi pada komunikasi dan keaktifan mahasiswa. Hal itu dapat tercapai dengan baik apabila mahasiswa merasa nyaman dan tanpa ada tekanan dalam belajar. Dengan begitu, mahasiswa era milenial secara perlahan dapat menumbuhkan semangat belajar bahasa arab.
Unsur yang ketiga adalah Dual komunikasi, yaitu komunikasi verbal dan non verbal yang berupa rangsangan semangat dari keadaan ruangan dan dari kepribadian seorang guru. Unsur ini lebih cenderung pada kualitas diri seorang guru tentang bagaimana membuat suasana kelas selalu kondusif. Mahasiswa duduk di kursi yang nyaman dengan tata ruang yang hidup dan memberi semangat. Dengan suasana yang seperti ini, mahasiswa akan lebih enjoy dan lebih komunikatif ketika belajar bahasa arab dalam maharah al-kalam. Terlebih jika melihat guru yang lihai berbicara dengan bahasa arab—yang menjadi inspirasi bagi para mahasiswa.
Unsur yang keempat adalah intonasi, yaitu keadaan seorang guru dalam menyajikan materi dengan intonasi yang bervariasi, mulai dari intonasi mirip orang berbisik dengan suara yang tenang dan lembut, intonasi yang normal sampai kepada nada suara keras yang dramatis. Hemat penulis, unsur ini sangat penting karena dalam variasi intonasi dalam pembelajaran secara tidak sadar akan menuntun mahasiswa melafalkan dan menirukan apa yang disampaikan guru. Di samping itu, keadaan tersebut akan menumbuhkan konsentrasi yang lebih baik dalam belajar bahasa arab. Memori otak akan cenderung mudah menerima dan mudah teringat ketika melihat dan mendengar intonasi yang bervariasi. Tentunya pikiran akan terlatih dan terbiasa sehingga keterampilan berbicara bahasa arab bisa dilakukan dengan mudah.
Unsur yang kelima adalah rhythm, yaitu materi membaca dilakukan dengan irama, berhenti sejenak di antara kata-kata dan rasa yang disesuaikan dengan nafas irama. Di sini mahasiswa diminta dan diajar untuk menarik nafas selama dua detik, menahannya selama empat detik dan menghembuskannya selama dua detik. Unsur ini memiliki pengaruh yang besar karena keterampilan atau maharah al-kalam sangat berkaitan dengan ketepatan berbicara. Dengan unsur ritme, maka mahasiswa akan terlatih tidak nervous. Jika dalam diri sudah tidak ada nervous, maka akan lebih mudah dalam melatih ketenangan berbicara dengan bahasa arab.
Unsur yang keenam adalah keadaan Pseuda-Passive. Pada unsur ini, keadaan mahasiswa betul-betul rileks tetapi tidak tidur sambil mendengar alunan irama musik diiringi lantunan teks berbahasa arab. Pada unsur inilah seorang guru menyisipkan kemajuan teknologi di bidang pendidikan seperti memanfaatkan media audiovisual dalam pembelajaran. Dengan kondisi seperti ini, menurut Racle (1977) akan terjadi hypermnesia, yaitu suatu kondisi yang membuat daya ingat menjadi kuat.[3] Selain itu, keadaan Pseuda-Passive bermanfaat untuk melatih saraf otak agar terbiasa dengan stimulus-stimulus teks bahasa arab yang nantinya bertujuan pada tercapainya keterampilan berbicara (maharah al-kalam).
Dengan memperhatikan keenam unsur di atas, Metode Suggestology dengan kolaborasi pemanfaatan teknologi pendidikan, secara teori dapat menumbuhkan semangat belajar bahasa arab di era milenial sekarang. Para mahasiswa akan merasa “lebih diperhatikan” dengan langkah-langkah di atas dalam belajar bahasa arab.

Penutup
Setiap pembelajaran di semua materi tentu akan menemui permasalahan dan hambatan. Bahasa arab adalah salah satu bahasa asing yang sangat kompleks sehingga dalam memahaminya membutuhkan strategi yang tepat untuk menghadapi segala permasalahan yang terjadi. Tak jarang penggunaan strategi tersebut  juga masih harus dikaji kembali agar sesuai dengan situasi dan kondisi. Metode Suggestology menjadi pilihan yang diharapkan bisa menjadi solusi yang tepat dalam merevitalisasi semangat belajar bahasa arab dalam maharah al-kalam di era milenial. 
 
Daftar Pustaka
Arsyad, Azhar. 2010.  Bahasa arab dan metode pengajarannya,. Yogyakarta: pustaka Pelajar
Hady, Yazid. 2016. Maharat kalam, metode pembelajaran Rudy Thu’aimah. e-book.


[1] Yazid hady, “maharat kalam, metode pembelajaran Rudy Thu’aimah, (e-book , 2016),  tanpa halaman.
[2] Azhar Arsyad, “Bahasa arab dan metode pengajarannya”, (pustaka Pelajar , 2010), hlm. 23
[3] Azhar Arsyad, Op.,Cit., hlm.25

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DISKUSI MATERI 2

...