Kereta senja mulai memasuki gerbang malam yang telah terbuka
dan menjanjikan mimpi-mimpi bagi para penumpangnya. Meninggalkan darah jingga
di atas tubuh lautan yang malas menari. Aku menikmati lambaian angin kesana
kemari bersama senyum lembayung yang tersohor memancari wajahku. Nyaman, damai,
tenang bak tiada sepikul beban yang hinggap di pundak.
''Lana..!'' suara samar terdengar dari jarak 100 meter dari
tempatku berjibaku. Tampaknya suara itu sudah bersahabat dengan gendang
telingaku. Yaps... Nisa. Suara lantang sembari melambaikan tangan memanggil
namaku. Dia menghendaki agar aku menghampirinya.
''sedang apa kamu disana?'' ia menyambut dengan simpul senyum
di pipinya.
''seperti apa yang kamu lihat.'' jawabku pelan tanpa
intonasi.
''kau lagi ada masalah?'' Nisa terheran sembari mengerutkan
dahinya.
''hmm.. Coba kau lihat arah sana!'' tanganku menunjuk ujung
laut ikut menjelaskan. ''begitu indah bukan suasana menjelang malam?'' tambahku.
''maksud kamu?'' Nisa tercengang. Dalam batinnya ia menerka
nerka apa yang sebenarnya akan kujelaskan.
''kamu tahu kan besok hari apa?'' tanyaku di antara raut
kebingungan Nisa.
''hari senin, hari kemerdekaan Indonesia ke-74??'' dengan
lantang ia menjawab.
''tepat sekali. Kamu tahu apa hubungan dengan suasana ini?''
imbuhku
''entah..'' ia terkulai kebingungan.
''senja kulihat begitu indah. Damai. Semua faktor alam bisa
hidup rukun, sejahtera. Sedangkan besok, Indonesia akan menyatakan kiprahnya
terhadap dunia—Indonesia Merdeka. Akan tetapi kenyataan tak demikian. Sudah
pantaskah Indonesia merdeka? Sedang rakyatnya jauh dari kata sejahtera. Bencana
sosial datang silih berganti, seolah menjadi santapan tiada henti. Siaran pers
sana sini membicarakan keburukan Indonesia, banyak sekali berita hoaks yang
disajikan untuk konsumsi rakyatnya. Kemiskinan, kenaikan harga bahan pokok,
kekeringan merajalela dan problema lain seolah menjadi sahabat setia Negara
Indonesia.'' Jelasku penuh khawatir akan kondisi Indonesia saat ini.
“Lan, itu kan sudah menjadi ujian hidup. Setiap orang hidup
pasti ada ujian yang menjadi sahabat karibnya, apalagi dalam lingkup negara.
Banyak rakyat banyak perbedaan, banyak pula beban yang ditanggung oleh negara.
Indonesia sudah merdeka Lan, Indonesia sudah pantas menjadi negara merdeka.
Cuma sekarang dalam proses menuju kesejahteraan. Ingat kata kesejahteraan itu
membutuhkan waktu!” jawab Nisa, perlahan memberikan pengertian kepadaku. Seolah
apa yang aku pikirkan salah besar.
“jika kesejahteraan membutuhkan waktu, sudah 74 tahun
Indonesia merdeka. Bukankah itu waktu yang cukup lama? Sementara kesejahteraan
belum berpihak kepada rakyatnya.” Aku merenung, dalam pikir penuh tanya.
“kamu tahu kan makna peribahasa panas setahun diguyur hujan
sehari? Seperti itulah kondisi Indonesia. Selalu begitu dan begitu. Ketika
negara mencanangkan suatu program kesejahteraan rakyat, selang beberapa tahun
pemerintahan sudah berganti. Kabinetpun dengan manja mengikuti pergantian
pemerintahan. Padahal dalam mensukseskan program tersebut dibutuhkan waktu yang
cukup lama. Entah kapan kesejahteraan akan berpihak kepada rakyat Indonesia,
yang jelas itu menjadi misteri yang sulit diperkirakan.” Nisa mengutarakan
penjelasannya. Mudah dimengerti, ramah dengan senyuman manis yang selalu ia
bawa.
Belum sempat aku membalas,
ia sudah memberi pengertian lagi. “tak usahlah memikirkan sampai segitu dalam,
sekarang tugas kita bagaimana mengisi kemerdekaan itu dengan sesuatu yang
bernilai. Buatlah bangga kepada para pahlawan yang telah menumpahkan darah
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kamu mengerti kan?”sambil menghela napas
Nisa menatapku.
“benar sekali nisa, aku tak habis pikir sampai kesitu. Sedari
tadi aku hanya memikirkan satu sudut pandang saja. Senang bisa berdiskusi
denganmu.” Jawabku dengan senyum yang akhirnya merekah diantara dua pipi.
“sudahlah ayo kita pulang!” ajak Nisa
Tak terasa langit berubah hitam menemani pembicaraan kami.
Pertanda hari akan berganti malam.
Sekian.
.
Dirgahayu Republik Indonesia.
74 tahun Indonesia Merdeka
Padamu negeri, kami berjanji
Padamu negeri, kami berbakti
Padamu negeri, kami mengabdi
Bagimu negeri, jiwa raga kami
.
Pekalongan, 16 Agustus 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar