Senin, 12 Agustus 2019

MEMORI 1962, CERMIN BANGGA SAMBUT ASIAN GAMES 2018


MEMORI 1962, CERMIN BANGGA SAMBUT ASIAN GAMES 2018
Oleh : M. Khakim Maulana


Berapapun biaya yang dikeluarkan, tidak menjadi masalah bagiku asalkan harga diri dan martabat Bangsa Indonesia diakui di mata dunia”, kutipan Soekarno pada gelaran Asian Games membuatku tertarik. Dengannya aku mampu belajar bahwa pertandingan di atas lapangan tidak sekadar pertandingan. Ia mengajariku berbagai hal semenjak Indonesia pernah menjadi Tuan Rumah multievent itu. Ia menyiratkan makna yang jauh lebih dalam dari mengorbankan tenaga, materi, dan pikiran. Ia memberi isyarat arti penting mengenalkan warisan budaya bangsa yang beraneka ragam yang mampu bercampur menjadi satu kesatuan. Ia membukakan mata dan menyirami hati dari tetes keringat para pejuang Indonesia demi harga diri  martabat bangsa Indonesia diakui bangsa lain. 
Mari bercermin pada tahun 1962 saat Indonesia mampu menorehkan tinta emas kepada Asia dan dunia. Indonesia meraih prestasi terbaik sepanjang sejarah even olah raga tingkat Asia, menduduki peringkat kedua di bawah juara bertahan Jepang. Atlet-atlet Indonesia berhasil mengharumkan nama baik bangsa. Tercatat Indonesia meraih 21 medali emas, 26 medali perak, dan 30 medali perunggu, demikian dilansir dari goodnewsfromindonesia.id. Menariknya, prestasi terbaik Indonesia sepanjang gelaran Asian Games diraih saat Indonesia ditunjuk sebagai Tuan Rumah Asian Games ke IV pada 1962. Berkat usaha, kerja keras, pantang menyerah, serta dukungan Pemerintah dan masyarakat, Indonesia bisa bernapas lega dan mampu unjuk gigi pada Asia dan dunia setelah tujuh belas tahun bebas dari belenggu penjajahan.
Sejak 1958 saat Indonesia resmi ditunjuk sebagai negara penyelenggara, terukir momen-momen hebat yang membanggakan Indonesia. Bangsa Indonesia di bawah komando Bung Karno mampu menyelesaikan segala proses pembangunan infrastruktur dalam waktu yang terbilang singkat. Seperti dikutip dari harian detikSport (16/8/2017), dalam menyambut Asian Games ke IV, Indonesia mempersembahkan stadion renang berkapasitas 8.000 penonton yang selesai pada Juni 1961; stadion tenis berkapasitas 5.200 penonton selesai pada 25 Desember 1961; stadion madya berkapasitas 20.000 penonton selesai pada Desember 1961; gedung bola basket berkapasitas 3.500 penonton selesai pada Juni 1962; gedung Televisi Republik Indonesia sebagai stasiun televisi nasional yang selesai pada 24 Agustus 1962, dan yang paling berkesan adalah pembangunan Istora Senayan yang sekarang bernama Stadion Utama Gelora Bung Karno berkapasitas 100.000 penonton selesai pada 21 Juli 1962. Stadion ini merupakan stadion terbesar se-Asia Tenggara dan menjadi salah satu yang terbesar di dunia saat itu.
Asian Games 1962 memberi catatan berharga bagi Bangsa Indonesia. Telah terlihat betapa Presiden RI pertama begitu bergairah dalam menyambut Asian Games. Secara tidak langsung Bung Karno memberi pesan bahwa harga diri dan martabat bangsa Indonesia harus terus diperjuangkan. Ia lebih dari apapun dan tidak bisa digantikan oleh siapapun. Aku bangga, dari Asian Games Indonesia bisa mencatatkan namanya pada Asia dan dunia.   
Tak lebih dari dua bulan Indonesia akan kembali menorehkan sejarah baru pada 18 Agustus 2018 mendatang. Bermarkas di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta sebagai jantung perhelatan, Jakabaring Sport City di Palembang serta beberapa venue di Jawa Barat dan Banten yang siap menyokong kesuksesan pentas olah raga se-Asia. Dengan bercermin gairah Bung Karno pada 1962, berbagai langkah dalam mempersiapkan segala sarana dan prasarana sudah dikebut Presiden Joko Widodo dalam menyambut Asian Games 2018.
Presiden membentuk tim panitia penyelenggara bernama INASGOC (Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee). INASGOC merupakan tim yang merancang perhelatan Asian Games dari opening ceremony hingga closing ceremony. Dalam tugasnya, INASGOC bekerja sama dengan Wishnutama sebagai Creative Director Opening & Closing Asian Games 2018 dan Eko Supriyanto sebagai koreografer mengusung slogan “Energy of Asia”. INASGOC ingin memperkuat aspek branding nasional dan warisan budaya Nusantara dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, termasuk di dalamnya mentransfer pengetahuan dan pondasi kepada generasi muda.
Dikutip dari harian Tempo.co (21/2/2018), dalam opening ceremony nanti Presiden Indonesia meminta agar melibatkan 3.000-5.000 anak muda dalam pentas kolosal. Mereka akan membawakan tari-tarian daerah dan Jember Fashion Carnaval. Jember Fashion Carnaval ini menurut Presiden tak kalah berkelas dibanding festival serupa di Pasadena, Amerika Serikat. Permintaan Pak Jokowi ini adalah langkah yang tepat dengan konsep INASGOC sehingga anak muda Indonesia bisa lebih dari sekadar mengerti tentang budaya bangsa dan Indonesia sebagai Energi Asia.    
Erick Thohir, Ketua INASGOC mengungkapkan, “Dalam 10-15 tahun terakhir, Asia menjadi energi global. Memang banyak orang melihat dari ekonomi saja, tetapi kultural juga luar biasa, sebagai contoh makanan dan kesenian Asia sudah mendunia,” demikian dilansir dari kumparan.com. Beliau juga menambahkan, “Indonesia pun memiliki pertumbuhan cukup tinggi, kebetulan ini era kita, jadi dengan gerakan di Indonesia apa yang terjadi di Asia ini bisa menyeimbangkan dunia”. Dengan slogan Energy of Asia, menurut Erick diharapkan Indonesia mampu percaya diri dengan segala kelebihan yang dimilikinya.
Selain membentuk Organizing Committee, Presiden Jokowi juga mengajak seluruh Kementerian untuk menyampaikan informasi seluas-luasnya terkait Asian Games kepada masyarakat. Menurut Presiden ketujuh ini, “Asian Games adalah perhelatan yang sangat besar, yang kita inginkan adalah sekarang ini mestinya masyarakat kita sudah ‘demam’, lha ini baru hangat, belum panas apalagi ‘demam’” seperti dikutip dari bitread.id.
Langkah orang nomor satu di Indonesia ini sangat antusias demi suksesnya Asian Games 2018. Tak hanya bersama INASGOC dan seluruh Kementerian, Presiden Jokowi juga memiliki cara sendiri yang cukup unik dalam mempromosikan Asian Games. Dilansir dari nasional.kompas.com (4/5/2018), Kepala Negara tampil beda dengan mengenakan jaket Asian Games 2018 saat menerima kedatangan siswa dan siswi OSIS SMA berprestasi se-Indonesia di Istana Bogor, Jawa Barat. Memang, bapak kelahiran Solo ini seringkali viral ketika mengenakan kostum yang berbeda sehingga ditiru oleh masyarakat. Oleh karenanya, Presiden mengakui jaket Asian Games sengaja dipakai agar masyarakat ‘demam’, bangga dan merasa memiliki perhelatan besar itu.
Berdasarkan indopos.co.id, nantinya Asian Games akan dihadiri ratusan media asing dan media lokal. Hal ini menjadi kesempatan emas bagi bangsa Indonesia untuk mempromosikan kebudayaan Nusantara dilengkapi sajian musik dan seniman Indonesia. Aku membayangkan ketika ratusan bahkan jutaan turis mancanegara menjadi saksi pertunjukan Indonesia dalam Opening Ceremony dengan kekayaan tari-tarian kolosal dari berbagai daerah dengan musik khas Indonesia dan para seniman yang piawai menunjukkan karakter Bangsa Indonesia. Hal inilah yang membuatku bangga Indonesia sebagai Tuan Rumah Asian Games. Inilah Indonesia dengan beragam kekayaan warisan budaya. Inilah Indonesia dengan simbol  Bhinneka Tunggal Ika yang mampu bersatu dalam satu kesatuan meski berbeda-beda. Inilah Indonesia, negeri Energy of Asia.
Asian Games bukanlah sekadar even kompetisi olah raga, melainkan sarana untuk kita Bangsa Indonesia menunjukkan pada Asia dan dunia. Melalui even ini Indonesia harus bangkit dan harus mendeklarasikan warisan-warisan budaya kepada Asia dan dunia agar tidak diklaim oleh negara lain. Melalui even ini Indonesia juga harus memberi lebih dari sekadar pengetahuan kepada generasi muda Indonesia bahwa negeri ini penuh dengan kekayaan warisan budaya. Jangan sampai generasi muda tidak mengerti sehingga mudah dibodohi oleh bangsa lain.
Mari dukung bersama dengan semangat dan bangga menyambut momen bersejarah Asian Games 2018. Gelorakan semangat dengan mendukung atlet Indonesia di empat puluh cabang olah raga. Mari ikut menyukseskan himbauan Presiden Joko Widodo, seluruh Kementerian, serta tim INASGOC dengan menyebarkan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat dan turut berpartisipasi dalam perhelatan Asian Games 2018. Jadikan segala upaya yang telah disiapkan sebagai cerminan bangga dan semangat Asian Games 1962. Sudah saatnya Indonesia mengembalikan kejayaan pada 1962 menuju Indonesia Baik. Sudah saatnya kita wujudkan bahwa Indonesia adalah Energy of Asia yang mampu menyeimbangkan dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DISKUSI MATERI 2

...