Senin, 12 Agustus 2019

“Berbisnis : Sebuah Ide dengan Menjual Otak”


“Berbisnis : Sebuah Ide dengan Menjual Otak”
A notes by M. Khakim Maulana

Saya teringat pesan di dalam sebuah buku berjudul Miskin Bukan Halangan Sekolah karya Suyadi dari UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Saya tertarik menuliskan kembali salah satu sub judul tentang sebuah konsep “Menjual “Otak” “ dalam berbisnis. Ide ini saya kira sangat tepat bagi kita sebagai Mahasiswa yang tengah membutuhkan pemasukan. Tentunya teman-teman pernah berpikir bukan? Bagaimana caranya bisa kuliah tetapi dapat pemasukan? Mungkin juga sampai sekarang pikiran tersebut masih terngiang-ngiang di dalam otak karena belum menemukan jalan keluar. Oleh karenanya, sebagian teman-teman ada yang sudah mendapatkan job, yakni pekerjaan sampingan. Lalu, bagaimana dengan teman-teman yang belum mendapatkan job tapi ingin mendapatkan pemasukan? Nah., tulisan ini sekadar ingin mengajak teman-teman membuka pikiran dan berbagi pengetahuan tentang konsep “Menjual “Otak” ”
Menjual “otak”  di sini bukan berarti otak kita yang dijual, akan tetapi mereka yang bisa menawarkan ide kepada pihak yang membutuhkan. Tentu bukan wujud otak secara nyata maupun ide yang sembarangan. Tapi, semuanya telah diolah sedemikian rupa sehingga menjadi “produk” kemasan yang siap dikonsumsi. Jadi, hasil pemikiran dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi benda konkret yang bermanfaat bagi orang lain. Inilah yang disebut dengan konsep “Menjual “otak” “
Sekadar contoh, teman-teman bisa menawarkan atau menuangkan gagasan-gagasan tentang fenomena kehidupan di lingkungan sekitar kita. Caranya, teman-teman cukup menuliskan ide dilengkapi dengan solusi yang ditawarkan kemudian menyerahkan kepada salah satu teman yang bisa menulis. Nantinya salah satu teman tersebut mengolah ide dan solusi yang ditawarkan menjadi sebuah tulisan yang nantinya dikirimkan ke media massa. Atau, jika ide dan solusi yang ditawarkan dalam jumlah banyak, maka teman tersebut bisa menuliskannya dalam bentuk buku yang kemudian diterbitkan oleh penerbit.
Nah, ide yang tertuang dalam tulisan teman-teman inilah yang akan dibaca, direnungkan dan tidak menutup kemungkinan untuk dipraktikkan orang banyak. Dengan demikian, ide-ide dari teman-teman telah bermanfaat bagi orang lain. Lalu, apa keuntungannya? Banyak sekali!
Pertama, ilmu yang teman-teman miliki bisa bermanfaat. Sudah jelas bukan, semakin teman-teman berpikir kritis terhadap fenomena lingkungan sekitar yang terjadi, dilengkapi dengan solusi untuk mengatasi masalah tersebut, maka ilmu teman-teman dari hasil pemikiran bisa bermanfaat bagi orang lain.
Kedua, pahala teman-teman akan bertambah di sisi Tuhan. Setiap ide teman-teman yang dipraktikkan orang lain, maka teman-teman akan mendapatkan pahala sebagaimana orang yang mempraktikkan ide teman-teman tanpa mengurangi pahala orang yang mempraktikkan tersebut. Demikianlah sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.
Ketiga, tentunya teman-teman akan mendapatkan pemasukan. Sebab, orang yang menulis di media massa akan mendapat honor jika tulisannya dimuat di media yang bersangkutan. Atau, jika yang mengatakan bahwa teman-teman tidak bisa menulis, teman-teman bisa menyerahkan ide dan solusi yang ditawarkan  kepada salah satu teman yang bisa mengolah dan menyusun kata menjadi sebuah tulisan yang bagus. Nah .., timbal baliknya jika tulisan tersebut dimuat di media massa, maka bisa dilakukan sistem bagi hasil. Mudah bukan?
 Jika hal ini dapat berjalan secara kontinu, maka tabungan atau pemasukan teman-teman telah cukup untuk membiayai kuliah di semester berikutnya sampai wisuda nanti. Pada akhirnya, teman-teman akan menjadi mahasiswa yang kaya raya, kaya pahala dan kaya ilmu ketika wisuda. Sebab, sebuah ide dapat mendatangkan keuntungan berupa uang. Bisa jadi keuntungan berupa uang inilah yang teman-teman tunggu. Benar bukan?
Tetapi, mungkin sebagian di antara teman-teman ada yang tidak suka menulis. Lantas muncul pertanyaan “Bagaimana konsep menjual “otak” selain bidang menulis? Adakah strategi lain di bidang penjualan bisnis ini?” Tentu ada. Misalnya, teman-teman bisa menawarkan ide kepada orang lain untuk membuka usaha warung makan yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Tentu, konsep warung yang akan dibuka nanti belum ada di kawasan tersebut.
Pertanyaannya, jika hanya berawal dari ide, bagaimana mendapatkan modalnya? Nah., agar teman-teman bisa berbisnis tanpa modal, ada caranya yaitu dengan menawarkan kerja sama dengan teman lainnya atau dosen. Teman-teman tinggal meyakinkan bahwa ini adalah investasi yang menjanjikan. Nantinya, teman-teman bisa menerapkan sistem bagi hasil yang prosentasenya bergantung pada negosiasi. Kemudian, apabila teman-teman tidak bersedia menjalankan ide sendiri─walaupun sudah mendapatkan modal dari teman lainnya atau dosen─maka teman-teman bisa melimpahkannya kepada orang lain. Teman-teman cukup mengontrol dan mengawasi usaha saja. Inilah salah satu dari strategi menjual otak.
Pada kenyataannya, masih banyak ide yang bisa mendatangkan uang. Bahkan, untuk sukses dan berhasil─termasuk bagi mahasiswa─cukup dengan satu ide saja. Akan tetapi, ide tersebut harus direalisasikan dan diperjuangkan hingga benar-benar terwujud sebagaimana yang muncul di dalam pikiran. Sekian.

"من جد وجد"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DISKUSI MATERI 2

...