M. Khakim Maulana
Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Pekalongan
Abstrak
Artikel ini mengkaji tentang bagaimana merevitalisasi
semangat belajar bahasa arab dalam Maharah al-kalam di era milenial.
Berbagai permasalahan terutama pada rendahnya semangat belajar bahasa arab yang
harus dihadapi di lembaga pendidikan, tenaga pengajar memungkinkan melakukan
pencarian metode baik inovasi maupun modifikasi guna menunjang aktivitas
belajar mengajar. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan Metode
Suggestology dalam merevitalisasi semangat belajar bahasa arab khususnya
dalam maharah al-kalam. Pembahasan tentang metode Suggestology
memuat unsur-unsur yang akan diterapkan dalam proses pembelajaran. Unsur-unsur
tersebut meliputi Autority, Infantilisasi, Dual Komunikasi, Intonasi, Rhythm,
dan keadaan Pseuda-Passive. Dengan memahami dan melaksanakan unsur-unsur
dalam metode Suggestology, maka diharapkan bagi para pelajar khususnya
mahasiswa dapat kembali bersemangat dalam belajar bahasa arab di era milenial.
Harapan ini semoga bisa terus meningkat, sehingga akan memungkinkan pada
keberhasilan belajar bahasa arab dalam keterampilan al-kalam.
Pendahuluan
Bahasa
merupakan media untuk menuangkan isi hati, pikiran seseorang terhadap
lingkungan maupun lawan bicaranya. Berkenaan dengan bahasa arab, banyak orang
memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Sebagian ada yang mengungkapkan bahwa
bahasa arab adalah bahasa religi. Konteks ini didasari dengan asumsi bahwa
bahasa arab sebagai alat untuk mempelajari kitab-kitab suci yang berbahasa
arab. Sebagian lagi ada yang beranggapan bahwa bahasa arab merupakan bahasa
ilmu pengetahuan islam. Asumsi ini didasari dengan alasan bahwa ilmu
pengetahuan islam bersumber dari referensi kitab-kitab berbahasa arab karya
ilmuwan islam terdahulu. Sebagian yang lain juga beranggapan bahwa bahasa arab
merupakan bahasa komunikasi, yakni lebih menekankan pada aktivitas sosial
manusia sehari-hari.
Bahasa arab
dalam konteks sebagai alat komunikasi, maka belajar bahasa arab menekankan pada
bagaimana seseorang melaksanakan praktik dan terampil untuk berbicara
menggunakan bahasa arab, baik di dalam maharah Istima’, al-qiro’ah,
al-kitabah, maupun al-kalam. Di sini dapat dilihat empat aspek yang
menjadi konsentrasi dalam pembelajaran bahasa. Banyak para ahli bahasa arab
berpendapat tentang hakikat berbahasa arab yang akan berakibat pada pola
pembelajaran bahasa arab. Salah satu pendapat dari Muhammad Ibn Mar’i al Hazimi
mengatakan "اللغة في الأساس هي الكلام" (dasar sebuah bahasa adalah berbicara/al-kalam). Ada
juga yang berpendapat bahwa “Jika seseorang menguasai suatu bahasa, secara
intuitif ia mampu berbicara dalam bahasa tersebut”. Pendapat
ini menunjukkan bahwa maharah al-kalam mengisyaratkan keberhasilan
seseorang dalam berbahasa dan mengetahui bahasa tersebut.
Maharah
al-kalam erat kaitannya dengan pelafalan,
tata bahasa, kosa kata, keterampilan mendengarkan, menirukan, dan lain-lain.
Maka penggunaan metode dan stategi pembelajaran yang didasari dengan teknik
yang tepat akan berpengaruh terhadap hasil dan tujuan pembelajaran bahasa. Jika
penggunaan metode pembelajaran belum didasari dengan pendekatan yang tepat
terhadap pelajar bahasa arab, tentu hal itu akan mengakibatkan pada kesulitan belajar
bahasa arab khususnya dalam maharah al-kalam. Jika seorang pelajar—baik
itu dari kalangan siswa maupun mahasiswa kesulitan dalam memahami dan mengikuti
metode pembelajaran, maka akan timbul masalah baru yakni semangat belajar mulai
turun dan hasil pembelajaran kurang maksimal.
Hemat penulis, berdasarkan pengamatan selama dua semester belajar
di jurusan bahasa arab, pembelajaran maharah al-kalam di IAIN Pekalongan
masih menggunakan metode sederhana, yakni dalam kompetensi dasar hiwar
(percakapan) mahasiswa hanya sebatas menyimak materi, membaca bersama kemudian menghafal
percakapan dan mempraktikkannya di depan kelas. Dengan metode pembelajaran yang
demikian, tentu hal ini terkesan bertentangan dengan era milenial yang serba
modern. Mahasiswa akan cenderung lebih cepat bosan dengan aktivitas
monoton—yang berdampak pada turunnya semangat belajar. Di samping itu, mahasiswa
yang memiliki kemampuan terbatas—karena masih baru dengan bahasa arab—akan
mudah menyerah. Mereka beranggapan bahwa belajar bahasa arab itu sulit dan
seolah tidak ada jalan keluar. Oleh karena itu, pencarian metode yang tepat terus
dilakukan oleh pegiat pendidikan sebagai upaya untuk merevitalisasi semangat
belajar bahasa arab. Metode Suggestology merupakan salah satu upaya
dalam merevitalisasi semangat belajar bahasa arab khususnya dalam maharah
al-kalam.
Pemanfaatan Metode
Suggestology
Metode Suggestology
merupakan suatu penerapan dari sugesti ke dalam ilmu mendidik. Metode ini
dicetuskan oleh Lozanov, sehingga metode ini biasa disebut “The Lozanov
Method” yang mencerminkan nama pencetusnya yakni George Lozanov dari
Bulgaria, Eropa Timur. Metode ini sering digunakan di sekolah-sekolah Eropa dan
Amerika dengan maksud untuk membasmi sugesti dan pengaruh negatif yang tak
disadari bersemai pada diri pelajar. Di samping itu, Metode Suggestology juga
untuk membasmi perasaan takut—yang menurut para ahli sangat menghambat proses
belajar; seperti perasaan tidak mampu, perasaan takut salah, dan keprihatinan
serta ketakutan akan sesuatu yang baru dan belum familiar. Jadi,
konteks Metode Suggestology adalah membuat pelajar khususnya mahasiswa
memiliki pola pikir positif dan mampu berjalan sesuai dengan target yang akan
dicapai.
Tak bisa
dipungkiri, hemat penulis berdasarkan survei yang penulis lakukan terhadap
teman-teman mahasiswa PBA IAIN Pekalongan, sebagian besar yang mengakibatkan
pada rendahnya semangat belajar bahasa arab adalah sugesti dan pengaruh
negatif. Mereka berasumsi—terutama bagi mahasiswa yang berasal dari SMA atau
SMK—bahwa belajar bahasa arab itu sulit. Mereka selalu merasa tidak mampu,
perasaan takut salah dalam melangkah dan sugesti yang lain yang menghambat
semangat belajar. Jika sugesti-sugesti tersebut terus terpelihara dalam benak
pikiran, maka akan berdampak pada terhambatnya semangat belajar bahasa arab.
Jika semangat belajar bahasa arab terhambat, maka tujuan pembelajaran akan
sulit tercapai. Oleh karena itu, Metode Suggestology dipilih sebagai sarana
revitalisasi semangat belajar bahasa arab mahasiswa di Era Milenial.
Metode Suggestology
secara teori memiliki sinkronisasi terhadap metode pembelajaran bahasa
arab. Metode Suggestology menurut Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A, merupakan
salah satu metode inovatif dalam metode pembelajaran bahasa arab yang mampu
menumbuhkan semangat mahasiswa dalam belajar bahasa arab.
Bancropt (1976)
mencatat enam unsur dasar dari Metode Suggestology. Unsur yang pertama
adalah Authority, yaitu adanya semacam tsiqah, untuk membuat
mahasiswa yakin dan percaya pada dirinya sendiri (self confidence).
Unsur ini yang harus pertama kali diterapkan kepada mahasiswa agar mulai
menumbuhkan benih-benih semangat belajar bahasa arab.
Unsur yang
kedua adalah Infantilisasi, yaitu mahasiswa seakan-akan seperti anak kecil yang
menerima authority dari seorang guru. Unsur ini seolah bertentangan
terhadap anjuran yang menuntut mahasiswa agar mandiri. Akan tetapi, dalam
pembelajaran bahasa arab khususnya dalam maharah al-kalam metode ini
efektif untuk digunakan. Unsur Infantilisasi menjelaskan bahwa belajar bahasa
arab itu seperti anak-anak, melepaskan mahasiswa dari kungkungan belajar
rasional ke arah belajar yang lebih intuitif. Sebagai contoh, adanya penggunaan
“role play” dan nyanyian dalam metode ini sehingga akan mengurangi rasa
tertekan, dan mahasiswa dapat semangat belajar secara ilmiah. Ilmu dapat masuk
tanpa disadari seperti apa yang dialami oleh anak kecil. Hemat penulis, unsur
ini sangat efektif terhadap pembelajaran maharah al-kalam karena
keterampilan al-kalam memiliki substansi pada komunikasi dan keaktifan
mahasiswa. Hal itu dapat tercapai dengan baik apabila mahasiswa merasa nyaman
dan tanpa ada tekanan dalam belajar. Dengan begitu, mahasiswa era milenial secara
perlahan dapat menumbuhkan semangat belajar bahasa arab.
Unsur yang
ketiga adalah Dual komunikasi, yaitu komunikasi verbal dan non verbal yang
berupa rangsangan semangat dari keadaan ruangan dan dari kepribadian seorang guru.
Unsur ini lebih cenderung pada kualitas diri seorang guru tentang bagaimana
membuat suasana kelas selalu kondusif. Mahasiswa duduk di kursi yang nyaman
dengan tata ruang yang hidup dan memberi semangat. Dengan suasana yang seperti
ini, mahasiswa akan lebih enjoy dan lebih komunikatif ketika belajar
bahasa arab dalam maharah al-kalam. Terlebih jika melihat guru yang
lihai berbicara dengan bahasa arab—yang menjadi inspirasi bagi para mahasiswa.
Unsur yang
keempat adalah intonasi, yaitu keadaan seorang guru dalam menyajikan materi
dengan intonasi yang bervariasi, mulai dari intonasi mirip orang berbisik
dengan suara yang tenang dan lembut, intonasi yang normal sampai kepada nada
suara keras yang dramatis. Hemat penulis, unsur ini sangat penting karena dalam
variasi intonasi dalam pembelajaran secara tidak sadar akan menuntun mahasiswa
melafalkan dan menirukan apa yang disampaikan guru. Di samping itu, keadaan
tersebut akan menumbuhkan konsentrasi yang lebih baik dalam belajar bahasa arab.
Memori otak akan cenderung mudah menerima dan mudah teringat ketika melihat dan
mendengar intonasi yang bervariasi. Tentunya pikiran akan terlatih dan terbiasa
sehingga keterampilan berbicara bahasa arab bisa dilakukan dengan mudah.
Unsur yang
kelima adalah rhythm, yaitu materi membaca dilakukan dengan irama,
berhenti sejenak di antara kata-kata dan rasa yang disesuaikan dengan nafas
irama. Di sini mahasiswa diminta dan diajar untuk menarik nafas selama dua
detik, menahannya selama empat detik dan menghembuskannya selama dua detik.
Unsur ini memiliki pengaruh yang besar karena keterampilan atau maharah
al-kalam sangat berkaitan dengan ketepatan berbicara. Dengan unsur ritme,
maka mahasiswa akan terlatih tidak nervous. Jika dalam diri sudah tidak
ada nervous, maka akan lebih mudah dalam melatih ketenangan berbicara
dengan bahasa arab.
Unsur yang
keenam adalah keadaan Pseuda-Passive. Pada unsur ini, keadaan mahasiswa
betul-betul rileks tetapi tidak tidur sambil mendengar alunan irama musik
diiringi lantunan teks berbahasa arab. Pada unsur inilah seorang guru
menyisipkan kemajuan teknologi di bidang pendidikan seperti memanfaatkan media
audiovisual dalam pembelajaran. Dengan kondisi seperti ini, menurut Racle
(1977) akan terjadi hypermnesia, yaitu suatu kondisi yang membuat daya
ingat menjadi kuat.
Selain itu, keadaan Pseuda-Passive bermanfaat untuk melatih saraf otak
agar terbiasa dengan stimulus-stimulus teks bahasa arab yang nantinya bertujuan
pada tercapainya keterampilan berbicara (maharah al-kalam).
Dengan memperhatikan keenam unsur di atas, Metode Suggestology
dengan kolaborasi pemanfaatan teknologi pendidikan, secara teori dapat
menumbuhkan semangat belajar bahasa arab di era milenial sekarang. Para
mahasiswa akan merasa “lebih diperhatikan” dengan langkah-langkah di atas dalam
belajar bahasa arab.
Penutup
Setiap
pembelajaran di semua materi tentu akan menemui permasalahan dan hambatan.
Bahasa arab adalah salah satu bahasa asing yang sangat kompleks sehingga dalam
memahaminya membutuhkan strategi yang tepat untuk menghadapi segala
permasalahan yang terjadi. Tak jarang penggunaan strategi tersebut juga masih harus dikaji kembali agar sesuai
dengan situasi dan kondisi. Metode Suggestology menjadi pilihan yang
diharapkan bisa menjadi solusi yang tepat dalam merevitalisasi semangat belajar
bahasa arab dalam maharah al-kalam di era milenial.
Daftar Pustaka