Minggu, 15 Desember 2019

Problematik Sampah : Revitalisasi Gerakan Sadar Lingkungan


PROBLEMATIK SAMPAH : REVITALISASI GERAKAN SADAR LINGKUNGAN
Oleh : M. Khakim Maulana


Dok. TPS pasar Wonopringgo


Problematik sampah seolah menjadi masalah abadi yang tak kunjung usai. Tingginya kebutuhan, maraknya produksi dan rendahnya tingkat kesadaran menjadikan peredaran sampah tak bisa dibendung di sisi kehidupan kita. Ia sudah seperti sahabat karib–yang senantiasa ada dimanapun kita berada. Jika melihat di lapangan, hampir di setiap sudut lingkungan selalu dijumpai sampah. Menurut Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pekalongan, produksi sampah di kota santri dalam satu hari mencapai 208 ton, dan 17 persen atau sekitar 40,9 ton merupakan sampah plastik (Tribun Jateng, 15 Maret 2019). Angka ini akan terus meningkat setiap harinya terutama ketika hari raya umat islam tiba.
Jika kita amati di lapangan, jenis produksi sampah yang paling banyak adalah sampah dari bahan plastik. Tidak dipungkiri, plastik menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia khususnya Pekalongan karena sifatnya yang ringan, praktis dan mudah ditemui. Plastik sekali pakai—seperti kantong plastik untuk pembelanjaan, atau untuk kegunaan sehari-hari seperti gelas cup plastik, sterofoam, sedotan, botol minuman—adalah bagian yang selalu melekat dari kehidupan sehari-hari masyarakat Pekalongan. Pada saat yang sama, tingginya konsumsi barang-barang tersebut tidak diimbangi dengan perhatian setelah menggunakannya. Akibatnya, barang bekas atau sampah plastik menjadi penyumbang terbesar produksi sampah di Pekalongan. Hal ini merupakan indikasi bahwa tingkat kesadaran masyarakat Pekalongan tentang sampah dan dampak terhadap lingkungan dari sampah plastik masih sangat rendah.

Mengapa Masalah Plastik sangat Genting?
Plastik merupakan barang yang praktis, ringan, dan banyak diproduksi. Akan tetapi plastik tidak dapat terurai setelah dibuang dan tidak semua masyarakat menyadari hal ini. Plastik yang dibuang sembarangan di sungai akan terbawa arus menuju laut. Plastik yang telah terbawa arus ke laut akan berakibat bahaya bagi keseimbangan ekosistem laut. Burung-burung yang biasa mencari ikan di laut pun akan keliru memakan sampah plastik yang dikira adalah makanannya. Akibatnya, banyak burung-burung yang mati karena terdampak sampah plastik di laut. Dikutip dari laman Detik Travel, menerangkan bahwa Organisasi Non Profit WWF memberikan kabar sedih, yakni seekor burung albatros mati karena isi perutnya penuh dengan sampah plastik (DetikTravel, 16 Mei 2019). Kasus tersebut merupakan salah satu dari banyak kasus yang disebabkan oleh pembuangan sampah plastik sembarangan.
Selain di laut, imbas sampah plastik juga sampai pada lingkungan daratan. Ratusan ton sampah plastik yang dihasilkan dan ditampung di TPA akan menjadi gunung sampah. Tentu jika hal ini semakin berlarut setiap hari, maka gunungan sampah tersebut akan semakin tinggi. Akibatnya warga yang tinggal di sekitar TPA akan terganggu karena bau busuk sampah. Akibat lain, gunungan sampah akan menjadi sarang tempat tinggal hewan yang menjadi sumber penyakit. Menurut Infosekitarpekalongan.com, gunung sampah di tempat penampungan akhir (TPA) Degayu Kota Pekalongan sudah overload dan sangat membahayakan. Pasalnya, secara ideal ketinggian sampah maksimum 3 meter, sedangkan di TPA Degayu sudah mencapai 17 meter. Tentunya hal ini akan mengancam warga sekitar dan mengganggu aktivitas sehari-hari (Info sekitar Pekalongan, 12 Januari 2019).
Upaya untuk mencegah dan menanggulangi problematik sampah selalu diusahakan. Perhatian terhadap sampah pun sudah dibahas oleh pemerintah bersama Dinas Lingkungan Hidup yang bersangkutan. Undang-undang pun sudah mengover agar sampah dikelola dan pemberian ancaman sanksi bagi pelaku pembuangan sampah sembarangan. Bahkan Bupati Pekalongan mengeluarkan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 5 Tahun 2019 tentang Pengelolaan dan Pengurangan Sampah Rumah Tangga—dimana sampah plastik yang masuk dalam sampah rumah tangga juga disinggung dalam Perbup tersebut (Tribun Jateng, 15 Maret 2019).
Lantas, dimana letak masalah sebenarnya? Letak masalah sebenarnya adalah ada pada produsen sampah, yakni masyarakat. Masyarakat tak sadar bahwa dirinya menghasilkan sampah, dan lupa bahwa masyarakatlah yang membuat masalah. Masalah sampah akan menjadi bom waktu jika persoalan serius ini tidak ditangani secara komprehensif.
Jadi, marilah kita berpikir logis dan bertindak konkret dalam menyikapi problematik sampah. Tak perlu yang muluk-muluk, cukup hal sederhana. Jika hal baik yang kita lakukan—meskipun sedikit akan tetapi jika dilakukan setiap hari dan menjadi kebiasaan itu lebih baik dari pada melakukan satu tindakan tanpa ada langkah lanjutan.
Revitalisasi Gerakan Sadar Lingkungan
Penulis menyadari problematik sampah adalah hal yang kompleks. Untuk mengatasinya bukan hal mudah dan membutuhkan kerja sama dari beberapa pihak yang terkait. Pemerintah misalnya, sebagai aktor yang memiliki kewenangan dalam membuat kebijakan, pemerintah sudah seharusnya dapat bersikap lebih tegas dan lebih serius mengatasi hal ini terutama penggunaan plastik. Penggunaan plastik harus dikurangi dan digunakan sesuai kebutuhan. Kita sebagai masyarakat pun sudah seharusnya sadar dan bijak dalam menggunakan plastik. Sebagai contoh penggunaan kantong plastik. Kita bisa memulai dengan tidak menggunakan kantong plastik ketika belanja, dan sebagai gantinya kita membawa tas belanja atau tas dari bahan kain yang lebih awet.
Selain itu, perlu digalakkan gerakan revitalisasi sadar lingkungan dengan melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat. Masyarakat perlu diberikan penyuluhan terkait bahaya sampah plastik yang dibuang sembarangan. Sebaliknya, sebagai masyarakat kita harus selalu bersinergi dalam setiap program yang dicanangkan pemerintah. Di Kabupaten Pekalongan, Bupati Pekalongan sudah melakukan program Berjumpa (Bersih Jumat Pagi)—yang mana beliau secara langsung terjun ke masyarakat di berbagai daerah untuk melaksanakan kerja bakti membersihkan lingkungan. Oleh karena itu, kita sudah seharusnya mendukung program pemerintah dalam upaya menanggulangi sampah.
Gerakan Sadar Lingkungan tak cukup dilakukan oleh masyarakat umum. Satu hal yang paling urgen adalah perhatian terhadap tempat penampungan akhir (TPA). Ketika gerakan sadar lingkungan telah berhasil membereskan masalah sampah di darat dan laut, maka tugas besarnya adalah bagaimana mengelola sampah yang terdapat di TPA. Gunung sampah di TPA perlu diberikan perhatian khusus, yakni pengelolaan sampah. Akan tetapi untuk mengelola semua sampah di TPA, merupakan hal yang sulit karena membutuhkan alokasi dana yang sangat besar. Di Surabaya, rencana anggaran dana yang dikeluarkan untuk pengelolaan sampah mencapai 260 miliar. Anggaran tersebut dialokasikan untuk pengolahan sampah sistem 3R (Reuse, Recycle, dan Reduce), pengangkutan sampah, pemeliharaan transport dan satgas kebersihan (Liputan6, 2 Agustus 2019). Maka tidak heran jika suatu daerah masih mengolah beberapa persen saja dari gunung sampah mengingat keterbatasan anggaran dana. Oleh karena itu, sikap yang bijak adalah kita tidak bisa serta merta menyalahkan pemerintah, justru yang harus kita lakukan adalah memikirkan bersama dan membuat ide inovatif yang bernilai ekonomis dalam upaya menanggulangi sampah yang ada di lingkungan.


1 komentar:

  1. Tulisannya bagus mas! 👍
    memang masalah sampah ini sudah sangat darurat. salah satu solusi yang bisa diterapkan dengan 5R (Refuse, Reduce,Reuse, Recycle, Rot ).

    BalasHapus

DISKUSI MATERI 2

...